Harga Karet Anjlok, Petani Inhu Merintih
Sejak beberapa bulan terakhir harga getah karet di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) anjlok. Hal ini menyebabkan para petani karet merintih, apa lagi saat ini musim kemarau, sehingga getah menyusut saat disadap. 
 
Akibatnya banyak petani karet yang dililit hutang. "Bagaimana kami tidak berutang dengan toke, sementara harga karet jauh dibawah harga sembako, terutama beras. Karet hanya Rp 6.000 sedangkan beras mencapai Rp 8000-10.000 perkilonya", ujarnya. 
 
 Anjloknya harga karet ini telah berlansung lama, namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kenaikan. Maka dari itu diharapkan peran aktif pemerintah untuk membantu petani khususnya petani karet. 
 
 "Jika hal ini terus berlangsung hingga tahun depan, maka nasib petani karet akan semakin memprihatinkan. Selain itu bisa-bisa banyak anak yang putus sekolah karena tidak memiliki biaya", tutupnya sembari mengeluh. Tidak hanya karet, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Inhu saat ini juga turun. 
 
Dari harga Rp. 1.500-1.700 per kilonya turun menjadi Rp. 800-1000 per kilo. Hal ini sudah berlansung sejak dua minggu lalu. Masnur (42) salah seorang petani yang juga pengumpul sawit masyarakat di Desa Sika Jadi, Kecamatan Kuala Cenaku menyebutkan, turunnya harga sawit ini sudah sejak satu minggu sebelum lebaran Idul Fitri kemaren. 
 
Yakni dari Rp. 1.800 perkilo turun menjadi Rp 800-1.000 per kilonya. "Semoga saja harga sawit ini tidak separah harga karet. Dengan demikian diharapkan peran aktif pemerintah untuk membantu para petani. Terlebih harga bahan pokok makin hari terus naik", tutupnya.

Post a Comment

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim (baca Disclaimer). Pembaca juga dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Powered by Blogger.