![]() |
| FOTO : Surat Suara |
Pasalnya, dua hari pasca pemUngutan suara sejak 4 September 2013 lalu, masyarakat disuguhkan ketidak pastian siapa sesungguhnya pemenang Pilkada Riau. Parahnya lagi, tak ada lembaga survei nasional yang tertarik pada pesta demokrasi di Riau.
“Tidak ada keharusan bagi KPU Riau agar melibatkan lembaga survei dalam penghitungan cepat di Pilkada Riau. Namun, tidak dilibatkannya lembaga survei tersebut di era tehnologi seperti sekarang ini, memancing spekulasi ditengah-tengah masyaraka,” ujar Pengamat Politik Universitas Islam Riau (UIR), kepada SH, Jum’at, (6/9) malam.
Ia mengatakan, soal penghitungan suara cepat (quick count-red), itu bukan jadi acuan bagi KPU. Namun penetapan penghitungan suara, kata Panca, KPU Riau mempunyai mekanisme aturan yaitu, keputusan akhir penetapan mengetahui siapa pemenang Pilkada Riau, ada pada rapat pleno dijajaran pimpinan KPU.
“Bisa saja KPU dinilai kurang sukses mengantar proses demokrasi di Riau. Sebab, tidak ada pengawasan kontrol eksternal,” katanya.
Menanggapi tudingan itu, pihak KPU Riau terkesan tidak terima kritikan tersebut. Bahkan, pihak KPU Riau seolah-olah arogan dan berkelit dengan alasan tidak ada anggaran. “Pengamat itu kan tidak tahu regulasi dalam proses pilkada Riau,” ujar Ketua KPU Riau Tengku Edi Sabli, kepada SH, Jumat (6/9), menanggapi kritik tajam para pengamat atas maraknya spekulasi penghitungan suara pilkada Riau ditengah-tengah masyarakat.
Ia mengatakan, bagi KPU tidak ada keharusan melibatkan lembaga survei dalam penghitungan suara cepat. “Kalau pun dilibatkan, tidak payung hukum meskipun ada anggarannya,” kilah Edi.
Bahkan, kata Edi, justru penghitungan suara cepat yang dilakukan para tim sukses masing-masing cagubri penyebab kegalauan ditengah masyarakat. “Maraknya penghitungan cepat itu jadi pemicu kegalauan itu,” tegas Edi.
Untuk itu, ia berharap, masyarakat diminta bersabar agar menunggu hasil penghitungan secara resmi yang diumumkan KPU Riau. “Tunggu aja pada 14 September 2013,” ujar Edi sembari pihaknya mengaku telah siap jika pilkada Riau harus dilakukan putaran kedua jika tak ada salah satu pasangan cagubri, memperoleh mencapai 30 persen total suara.
Seperti kita ketahui, hingga memasuki tiga pasca pencoblosan 4 September 2013 lalu, baik tim sukses pasangan Herman Abdullha-Agus Hidayat, Anas Makmun dan Lukman Edy-Suryadi masing-masing memunculkan penghitungan suara menurut mereka peroleh dan saling klaim unggul dalam perolehan suara. Dua pasangan Cagubri, Achmad –Masrul Kasmy dan Jhon Erizal-Mambang Mit memilih menunggu pengumuman hasil penghitungan suara resmi dari KPU Riau.

Post a Comment
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim (baca Disclaimer). Pembaca juga dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.